selamat datang didunia kecilku semoga sesuatu yang kecil ini akan memberikan manfaat meski cuma sedikit selamat menikmati

Jumat, 09 April 2010

Naik Hewan Impian



Naik Hewan Impian, 2009, Acrylic on Canvas, dan dalam buku katalog pameran Pesan Cinta Harsono Sapuan, 2011, Anindya Barata menulis demikian:  

"Demikian pula pada karyanya yang lain, dengan komposisi serupa, ia menempatkan dirinya di atas kuda bersayap yang berwarna-warni yang disebutnya sebagai hewan impian. Di bawahnya adalah lanskap bergelombang, dunia labil bergonjang-ganjing yang haru-biru. Seakan Harsono ingin menyatakan posisinya sebagai pelukis yang akan terus “mengendarai” kanvas warna-warninya dengan semangat “berdaya kuda”, mengamati dunia realitas secara reflektif dan berjarak".
Dan pada katalog yang sama Purwadmadi Admadipurwa menulis
"Membaca karya Harsono tidak cukup hanya dari menjawab pertanyaan tentang sayap-sayap terkembang itu. Malah, saya sering rasakan, sayap-sayap itu sebagai cara Harsono menciptakan area promosi dengan membangun etalase dari show room karyanya dan gudang pengalaman batinnya. Kedalaman isi sayap itu bukan pada kenampakan sayapnya. Terdengar, “terbangkan daku ke atas langit terjauh, sejauhnya jauh.”
Tidak kalah menarik tentang apa yang ditulis Mardi Luhung pada katalog itu juga:
         "Jadinya, seperti dalam lukisan Naik Hewan Impian (2009), Harsono pun merasa dirinya dapat terbang untuk melakukan apa yang diinginkan itu. Dan dalam lukisan itu, sosok penunggang (atau yang naik) di punggung si hewan impian, seakan-akan memainkan kedua tangannya seperti memainkan sesuatu yang ingin didapatkannya balik. Sesuatu yang mungkin ada di nun jauh di sana. Di mana ketika terbang, rumah-rumah yang ada di bawahnya tampak terlihat biru semu kekuningan. Dan kaki langit pun mengkelung. Seperti bola dunia menjadi kecil. “Har, Har, betapa rindunya dirimu dengan ari-arimu. Sedulurmu. Belahan jiwamu. Yang telah tertinggal di masa lalu...”

4 komentar:

  1. ide bagus....ide ini membuat kita kaya harapan...hehehe siiiip bos

    BalasHapus
  2. karya ini dipakai sebagai cover kumpulan puisi Mardi Luhung, BUWUN, dan mendapat anugerah Khatulistiwa Literary Award, 2010

    BalasHapus